WWW.LISTEN2QURAN.COM 2

Tampilkan postingan dengan label ibadah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ibadah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Juni 2012

MEMAKNAI SUKSES


“Sukses” haruslah dimaknai dengan tepat, karena beberapa orang seringkali keliru dalam memaknai “sukses”. Apabila kurang berhati-hati dalam memaknai “sukses”, seseorang dapat terjebak pada makna palsu.

Dalam maknanya yang palsu, “sukses” seringkali dimaknai sebagai keberhasilan seseorang dalam mengumpulkan harta, mencapai peringkat tertinggi dalam hal pangkat, jabatan, dan gelar (sosial dan akademik), serta mampu membangun keluarga dalam jumlah anggota yang relatif besar.

Sesungguhnya makna “sukses” tidaklah sesempit itu. Sesungguhnya makna “sukses” sangat esensial, bersifat saripati atau bersifat intisari. “Sukses” sesungguhnya, atau sukses yang sebenar-benarnya sukses, adalah ketika seseorang mampu melakukan dua hal penting dalam hidupnya, yaitu: Pertama, beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kedua, memberi manfaat optimal kepada orang lain dan lingkungannya.

Oleh karena “sukses” dapat dimaknai dengan benar (sesungguhnya) dan dapat pula dimaknai secara keliru (salah), maka setiap orang perlu berikhtiar untuk sukses (berhasil) dalam memilih makna “sukses” yang benar, atau sukses yang sesungguh-sungguhnya sukses. Dengan kata lain setiap orang harus sukses dalam memaknai “sukses”.

Setelah berhasil memaknai “sukses” dengan benar, maka ia akan mengetahui adanya “jalan” yang berbeda dalam mencapai sukses semu (salah atau keliru) dengan sukses sesungguhnya (benar atau tepat). Hal ini berarti setiap orang harus sukses memilih “jalan” menuju sukses. Dengan kata lain setiap orang perlu SMS (Sukses Menuju Sukses).

Menurut Abdullah Gymnastiar, agar mencapai sukses, yaitu ridha Allah SWT, maka setiap manusia hendaknya perlu hidup dalam tiga dimensi, yaitu: Pertama, dimensi dzikir, yang menekankan keikhlasan dan penyerahan diri kepada Allah SWT. Kedua, dimensi pikir yang menegaskan pentingnya rasionalitas dalam setiap tindakan keseharian seseorang, sehingga setiap langkah merupakan bagian dari perencanaan yang matang. Ketiga, dimensi ikhtiar yang menekankan pentingnya etos kerja, melalui hidup penuh kesungguhan dan kerja keras tanpa kenal putus asa.

Masih menurut Abdullah Gymnastiar, “Kalau kita mau sukses, kunci pertama adalah jujur, karena dengan bermodalkan kejujuran, orang akan percaya kepada kita. Kedua, professional. Kita harus cakap sehingga siapapun yang memerlukan kita merasa puas dengan yang kita kerjakan. Ketiga, inovatif, artinya kita harus mampu menciptakan sesuatu yang baru, jangan hanya menjiplak atau meniru yang sudah ada.”

Selamat merenungkan, dan jangan lupa berdoa kepada Allah SWT, untuk kebaikan Bangsa Indonesia, Bangsa Palestina, dan Umat Islam di seluruh dunia. 

Semoga Allah SWT berkenan meridhai...

...

Sabtu, 07 Maret 2009

BERIBADAH DAN BERMANFAAT

Sesungguhnya mereka yang memiliki kecerdasan ruhani (transcendental intelligence), akan mengerti bahwa hidup yang dijalani seorang manusia bukanlah suatu kebetulan saja. Hidup yang dijalani seorang manusia adalah sebuah kesengajaan yang ditetapkan oleh Allah SWT. Dengan kata lain, hidup yang dijalani seorang manusia adalah bagian dari sebuah "Skenario Semesta Alam" yang ditetapkan oleh Allah SWT. Oleh karena itu, seorang manusia harus menjalani kehidupannya dengan penuh tanggungjawab.
Kegagalan seorang manusia menjalankan tugas dan fungsinya sebagai manusia di alam semesta, akan mendapat punishment (sanksi atau hukuman) dari Allah SWT, baik di alam semesta maupun di alam akherat. Sebaliknya keberhasilan seorang manusia dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai manusia di alam semesta, akan mendapat reward (ganjaran atau pahala) dari Allah SWT, baik di alam semesta maupun di alam akherat.
Tugas dan fungsi seorang manusia di alam semesta adalah: Pertama, beribadah kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman, "Dan Aku (Allah) tidak ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaKu" (QS.51:56); Kedua, memberi manfaat optimal bagi alam semesta. Allah SWT berfirman, "Dan Kami (Allah) tiada mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi alam semesta" (QS.21:107).