WWW.LISTEN2QURAN.COM 2

Tampilkan postingan dengan label liberalisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label liberalisme. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Mei 2012

LIBERALISME, DOGMA ILUSIONIS BARAT MASA KINI


Dogma adalah dekrit (pernyataan) yang dikeluarkan oleh institusi otoritatif, sehingga bagi yang tidak melaksanakan akan mendapat sanksi dari institusi tersebut. Institusi yang dimaksud dalam hal ini dapat berupa negara, organisasi, dan perguruan tinggi.

Ilusionis adalah orang, lembaga, atau negara yang gemar berilusi, berangan-angan, atau berkhayal tentang sesuatu. Ilusionis Barat, artinya orang, tokoh, lembaga, atau negara-negara Barat yang gemar berilusi, berangan-angan, atau berkhayal.

Ilusi, angan-angan, atau khayalan orang, tokoh, lembaga, atau negara-negara Barat ini merupakan dongeng yang ditebarkan oleh Bangsa Yahudi (Zionis), untuk mengelabui mereka (Barat) agar bersedia mendukung dan membantu secara membabi-buta Bangsa Yahudi (Zionis) yang ingin menguasai dunia, yang diawali dengan merampok Tanah Palestina dan mendirikan Negara Israel di atas tanah Bangsa Palestina.

Liberalisme adalah dogma yang dikeluarkan oleh negara-negara Barat, berdasarkan petunjuk organisasi-organisasi di negara-negara Barat, organisasi-organisasi internasional, dan perguruan tinggi terkenal yang ada di Barat dan pro Barat.

Oleh karena itu, negara-negara yang tidak berkenan menerapkan liberalisme akan mendapat sanksi dari negara-negara Barat, organisasi-organisasi internasional, dan perguruan tinggi terkenal yang ada di Barat dan pro Barat. Sanksinya berupa pengucilan, dan penghentian pemberian hutang, atau biasa disebut dengan ”penghentian pemberian bantuan”.

Liberalisme, adalah suatu faham yang menyatakan bahwa kebebasan adalah nilai utama dalam masyarakat. Faham ini merupakan dogma, sebab faham ini bukanlah sesuatu yang sebenarnya, karena kebenarannya bersifat relatif. Dengan demikian liberalisme hanyalah suatu takhyul yang dikemas secara ilmiah, atau “takhayul ilmiah”. 

Liberalisme merupakan dekrit yang dikeluarkan oleh institusi otoritatif, sehingga negara atau masyarakat yang menolak dogma Barat ini, akan mendapat sanksi dari institusi otoritatif tersebut. 

Sesungguhnya sesuatu disebut benar, bila sesuai dengan perspektif Allah SWT (penentu kebenaran mutlak), yang tertuang dalam nilai-nilai Islam, yang meliputi: aqidah, ibadah, muamallah (tata interaksi sosial), adab (tata etika), dan akhlak (ekspresi beraqidah, beribadah, bermuamallah, dan beradab).

Liberalisme yang digembar-gemborkan Barat, sesungguhnya merupakan dogma yang sengaja ditebarkan oleh Bangsa Yahudi (Zionis) untuk menguasai dunia. Dogma ini sejak tahun 1897 telah dimuat dalam Protocol of Zion point 1 dan 2, yang secara ringkas isinya: sebagai berikut: Pertama, liberalisme, kemerdekaan, persamaan, dan persaudaraan yang dikembangkan oleh Bangsa Yahudi, hanyalah jerat halus untuk menangkap mangsa, yaitu Bangsa Non Yahudi. Kedua, ideologi Bangsa Yahudi, yaitu liberalisme, bagi orang yang tidak menjalankan agama dengan baik akan mudah diterima.

Allah SWT berfirman, “Dan demikianlah untuk setiap nabi, Kami menjadikan musuh yang terdiri dari setan yang berwujud manusia dan jin. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah, sebagai tipuan. Dan kalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak akan melakukannya. Maka biarkanlah mereka bersama kebohongan yang mereka ada-adakan. Dan agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada akherat tertarik pada bisikan itu dan menyenanginya. Dan agar mereka melakukan hal-hal yang biasa mereka lakukan” (QS.6:112-113).

Firman Allah SWT dalam QS.6:112-113 menjelaskan bahwa: Pertama, setiap masa selalu ada setan yang berwujud manusia, atau selalu ada manusia yang berpikir, bersikap, bertindak, dan berperilaku sebagaimana setan. Kedua, para setan ini membisikkan berbagai tipuan yang indah kepada umat manusia, yang merupakan kebohongan yang diada-adakan. Ketiga, orang-orang yang tidak sungguh-sungguh berpegang teguh pada nilai-nilai Islam, akan mudah tertarik pada tipuan yang indah tersebut. Keempat, orang-orang ini tidak menyadari, bahwa ia tertipu oleh suatu kebohongan yang diada-adakan oleh setan berwujud manusia (lihat juga QS.114).

Berdasarkan firman Allah SWT dalam QS.6:112-113 dan QS.114 maka dapatlah dikatakan, bahwa liberalisme adalah suatu tipudaya yang ditebarkan oleh Bangsa Yahudi (Zionis) dan Barat, yang menjadi pendukung Bangsa Yahudi (Zionis). Liberalisme merupakan kebohongan yang diada-adakan oleh Bangsa Yahudi dan pendukungnya (Barat) yang tujuannya adalah untuk menguasai bangsa-bangsa lain di dunia. Oleh karena itu, umat Islam perlu menjadikan nilai-nilai Islam sebagai solusi dalam mengatasi desakan liberalisme, seraya berlindung kepada Allah SWT.

Semoga Allah SWT berkenan melindungi Bangsa Indonesia dari desakan liberalisme, sehingga bangsa ini dapat terus mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang dibangun berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Tahun 1945.

InsyaAllah...

Minggu, 03 April 2011

PLURALISME, LIBERALISME, DAN SEKULARISME

Sudah sejak lama para agen Barat berupaya memasukkan pluralisme, liberalisme, dan sekularisme ke dalam mindset umat Islam. Namun dengan rahmat Allah SWT upaya itu belum sepenuhnya berhasil, karena sebagian besar umat Islam masih kukuh menolak pluralisme, liberalisme, dan sekularisme. Sebagian besar umat Islam menyatakan diri menerima pluralitas sebagai fakta, namun tetap kukuh menolak pluralisme. Untuk itu, sudah selayaknya umat Islam bersyukur pada Allah SWT.


Pluralisme (agama) adalah suatu faham yang mengajarkan, bahwa semua agama adalah sama, dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relative. Berdasarkan pluralisme, maka setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar, dan juga tidak boleh menganggap bahwa agama yang lain salah. Pluralisme juga mengajarkan, bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga.


Pluralitas (agama) adalah sebuah kenyataan bahwa di negara/daerah tertentu terdapat berbagai bentuk pemeluk agama yang hidup secara berdampingan.


Sementara itu, liberalisme adalah memahami nas-nas agama (al-Qur'an dan Sunnah) dengan menggunakan akal dan pikiran yang bebas semata, dan hanya menerima doktrin agama yang sesuai dengan akal dan pikrian semata.


Selain itu juga diketahui, bahwa sekularisme adalah memisahkan urusan dunia dari agama. Pada faham ini sgama hanya digunakan untuk mengatur hubungan pribadi dengan Tuhan, sedangkan hubungan antar manusia hanya diatur berdasarkan kesepakatan sosial.


MUI (Majelis Ulama Indonesia) dalam Musyawarah Nasional Ke-7 di Jakarta tanggal 24-29 Juli 2005 mengeluarkan fatwa, yang antara lain sebagai berikut: Pertama, pluralisme, sekularisme dan liberalisme agama sebagaimana dimaksud dalam bagian pertama adalah paham yang bertentangan dengan ajaran Islam. Kedua, umat Islam haram mengikuti paham pluralisme, sekularisme dan liberalisme agama. Ketiga, dalam masalah akidah dan ibadah, umat Islam wajib bersikap ekslusif, dalam arti haram mencampur adukan aqidah dan ibadah umat Islam dengan aqidah dan ibadah pemeluk agama lain. Keempat, bagi masyarakat muslim yang tinggal bersama pemeluk agama lain (pluralitas agama) dalam masalah sosial yang tidak berkaitan dengan agama (ibadah), umat Islam bersikap inklusif, dalam artian tetap melakukan pergaulan sosial dengan pemeluk agama lain sepanjang tidak merugikan.


Semoga Allah SWT berkenan melindungi Bangsa Indonesia…