WWW.LISTEN2QURAN.COM 2

Minggu, 11 November 2012

ADZAB ALLAH SWT UNTUK POLISI MALAYSIA

Assallamu'alaikum Wr. Wb.



Sahabat-Sahabatku yang baik hatinya, pada kesempatan ini marilah kita berdoa agar Allah SWT berkenan mengadzab polisi Malaysia, yang berbuat dzalim kepada TKI (Tenaga Kerja Indonesia), baik TKI yang laki-laki maupun TKI yang wanita (TKW atau Tenaga Kerja Wanita). Doa ini penting untuk mengurangi jumlah polisi Malaysia yang berbuat dzalim. Termasuk dalam doa ini adalah para pimpinan dan tokoh Malaysia yang mengabaikan kedzaliman polisi Malaysia terhadap TKI.

Kita (Bangsa Indonesia) sudah berulang-kali mendengar tentang penembakan semena-mena yang dilakukan polisi Malaysia terhadap TKI yang menewaskan banyak TKI, dan kita juga sudah berulang-kali mendengar perkosaan yang dilakukan polisi Malaysia terhadap TKW. Oleh karena itu marilah dengan segenap kerendahan hati di haribaan Allah SWT, kita memohon agar Allah SWT berkenan menurunkan adzabnya pada polisi Malaysia, dan para pimpinan serta tokoh Malaysia yang mengabaikan kedzaliman polisi Malaysia terhadap TKI.

Semoga Allah SWT berkenan mengabulkan doa kita ini.....

...

Minggu, 02 September 2012

MAMPU MEMPERHATIKAN



Sebagaimana diketahui, memperhatikan adalah kemampuan yang dimiliki seseorang dalam mempertimbangkan segenap kemampuannya. Kemampuan ini penting, karena dapat digunakannya sebagai pembanding terhadap kemampuan orang lain. Pembandingan dilakukan untuk menumbuhkan kepekaan, dan kesiapan membantu orang lain.

Agar mampu memperhatikan, ada beberapa hal yang harus dimiliki oleh seseorang, di mana ia hendaknya merasa sangat tertarik pada kebaikan bagi orang lain atau masyarakat, dan sangat ingin terlibat di dalamnya. Untuk itu ia telah memiliki rekam jejak (track record) yang menunjukkan, bahwa ia dapat dipercaya telah bersungguh-sungguh berupaya memenuhi janji baiknya pada orang lain atau masyarakat.

Seseorang yang berupaya untuk memperhatikan juga dapat menjelaskan kepada orang lain atau masyarakat: Pertama, bahwa sesuatu yang baik sangat berpeluang terjadi. Kedua, karena ia telah bersungguh-sungguh mengupayakannya. Ketiga, sehingga orang lain atau masyarakat tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya.

Ia telah membuktikan: Pertama, bahwa ia dapat dipercaya. Kedua, karena ia telah memperlihatkan segenap upaya. Ketiga, yang menunjukkan bahwa ia dapat mengendalikan situasi. Keempat, karena ia memiliki kekuatan dalam membuat keputusan. Kelima, dan mampu mengendalikan situasi yang berpeluang timbul.

Kebaikan yang ingin diperjuangkannya, antara lain bersatunya segenap manusia dengan saling mencintai antara satu dengan lainnya, karena meskipun manusia secara fisik dilahirkan berbeda-beda, namun mereka memiliki status kemanusiaan yang sama. Untuk itu ia telah berupaya memperbaiki situasi dengan memulainya dari diri sendiri, lalu ke orang terdekat dan demikian seterusnya hingga mencapai lingkungan yang lebih luas.

Oleh karena itu, ia sangat memiliki kepedulian dalam memperbaiki situasi agar menjadi lebih baik, untuk umat manusia secara keseluruhan. Ia mengerti, bahwa pengalaman-pengalaman dan penderitaan-penderitaan yang dialami oleh orang lain atau masyarakat harus mendapat pertolongan, dukungan dan cinta dari dirinya.

Ukuran sukses bagi dirinya bukanlah pencapaian yang ia raih, melainkan proses kerja yang ia lakukan dengan terus menerus tanpa kenal lelah. Ia faham, bahwa untuk mencapai kesejahteraan manusia atau masyarakat, maka manusia atau anggota masyarakat harus bekerja bersama-sama. Tidak boleh ada seorang manusia yang dikorbankan untuk kesejahteraan orang lain, karena semua terhubung sebagai bagian dari umat manusia.

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalanNya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti satu bangunan yang tersusun kokoh” (QS.61:4).

Selamat merenungkan, dan semoga Allah SWT berkenan meridhai...

...

Minggu, 15 Juli 2012

MAMPU MENGANGKAT DIRI


“Mengangkat diri” adalah suatu kemampuan yang ada pada diri seseorang, di mana ia dapat menempatkan atau memposisikan dirinya sebagai individu yang memiliki tingkat dan kualitas diri yang lebih baik atau lebih tinggi dari sebelumnya.

Agar seseorang dapat memiliki kemampuan mengangkat diri, maka ia harus memperhatikan tingkat dan kualitas diri yang ingin dicapainya. Tingkat diri yang akan ditetapkan, haruslah berdasarkan kualifikasi diri yang telah dicapainya saat ini, yang meliputi keahlian dan kompetensi yang ada pada dirinya.

Keahlian diperlihatkan oleh kemampuannya dalam melakukan suatu aktivitas atau pekerjaan tertentu dengan baik, berdasarkan latihan yang terus menerus yang dilakukannya selama ini. Sementara itu, kompetensi diperlihatkan oleh kemampuannya dalam melakukan suatu aktivitas atau pekerjaan tertentu dengan baik, berdasarkan keahlian dan bakat yang dimilikinya. 

Tingkat diri akan semakin berada pada posisi yang baik (tinggi) bila didukung oleh kualitas diri yang baik pula. Sementara itu, kualitas diri ditandai oleh karakter yang dimiliki seseorang, yang merupakan personalitas atau kepribadian seseorang, yang membuat seseorang berbeda dengan orang lain.

Allah SWT berfirman, “Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi…” (QS.3:191). Allah SWT juga berfirman, “Maka apabila telah ditunaikan shalat, hendaklah kamu bertebaran di muka bumi dan carilah karunia Allah, serta ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung” (QS.62:10).

Firman Allah SWT dalam QS.3:191 dan QS.62:10 menunjukkan, bahwa mengingat Allah SWT dalam berbagai keadaan relevan dengan berbagai aktivitas yang perlu dilakukan oleh seorang manusia. Dengan demikin seorang manusia yang memahami QS.3:191 dan QS.62:10 mengerti, bahwa ia perlu mencapai kualitas diri yang baik, mampu memperhitungkan prospek dirinya, dan menghargai waktu.

Apabila seluruh capaian kualitas diri berada pada ”lintasan” kualitas yang ingin dicapai oleh seseorang, maka  hal ini akan menjadikannya memiliki suatu kualitas yang tipikal atau unik. Kualitas tipikal seseorang yang berupaya mengangkat diri akan mewujud dalam kesiapan untuk menjalani hidup sebaik mungkin, dengan tetap memikirkan prospek kehidupannya di masa depan. 

Apabila prospek yang dipikirkannya mewujud, ia telah siap menyambutnya dengan responsif. Prospek yang mewujud tidak akan diresponnya secara reaktif (respon berlebihan), tidak pula pasif (tanpa respon), dan tidak pula sekedar aktif (merespon sekedarnya), melainkan secara responsif (merespon secara proporsional). 

Ia akan menghargai waktu, karena merupakan bagian dari kehidupannya. Tepatnya, kehidupan merupakan proses mengisi aktifitas pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku dalam rentang waktu tertentu. 

Oleh karena itu, menghargai waktu merupakan wujud dari penghargaannya kepada kehidupannya yang penuh makna dihadapan semesta, manusia, dan Allah SWT. Seseorang yang berupaya mengangkat diri memahami, bahwa ia pernah menjalani kehidupannya di masa lalu, sedang menjalani kehidupan di masa kini, dan akan menjalani kehidupan di masa depan. Kehidupan masa depan yang difahaminya juga meliputi kehidupan masa depan duniawi, dan kehidupan masa depan akherat.

Selamat merenungkan, dan jangan lupa berdoa kepada Allah SWT, untuk kebaikan Bangsa Indonesia, Bangsa Palestina, dan Umat Islam di seluruh dunia.

Semoga Allah SWT berkenan meridhai…

...

Senin, 09 Juli 2012

MAMPU MENGEMBANGKAN DIRI


Mengembangkan diri adalah suatu kondisi ketika seseorang mampu memajukan diri, sehingga kehadirannya memberi dampak yang besar, penting,  dan baik. Seseorang yang berada di “jalan” yang benar ketika mengembangkan diri, akan merasakan dampak kehadirannya, yang juga akan berdampak bagi orang lain.

Dampak orang yang sedang mengembangkan diri, antara lain: Pertama, semakin besar dan banyaknya nilai positif yang didapat oleh dirinya dan orang lain. Kedua, semakin bernilai, berguna, dan sesuai dengan kebutuhan dirinya dan orang lain. Ketiga, semakin menyenangkan, nyaman, dan menarik bagi dirinya dan orang lain.

Ada satu hal penting yang perlu dilakukan oleh seseorang dalam rangka mengembangkan diri, yaitu melakukan analisis kebutuhan agar ia dapat mewujudkan tujuan hidupnya. Bagi setiap manusia Allah SWT telah menetapkan tujuan hidup, yaitu: menggapai ridha Allah SWT. Caranya dengan beribadah kepada Allah SWT, dan rahmatan lil’alamiin. 

Bagi orang yang sedang mengembangkan diri, analisis kebutuhan diperlukan agar ia mampu mendorong perbaikan tingkat kompetensi dirinya. Oleh karena itu, ia perlu mengawalinya dengan peningkatan rasa ingin tahu. Analisis kebutuhan juga perlu dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan pihak-pihak yang berkepentingan.

Pada saat seseorang berkenan melakukan perbaikan dalam rangka mengembangkan diri, maka ia mampu berubah. Kalaupun karena sesuatu dan lain hal ia belum mampu berubah, maka ia harus menyatakan diri ingin berubah ke arah yang lebih baik. Oleh karena itu, ia harus menanamkan dalam mindset atau pola pikirnya, bahwa ia meyakini sesuatu bukan karena faktor subyektif, melainkan karena faktor obyektif.

Ia harus meyakinkan diri, bahwa meskipun sesuatu dipandang sulit oleh dirinya dan orang lain, namun secara obyektif ia berkeyakinan, bahwa ia dapat melakukannya. Ia tidak “terpesona” dengan kondisi yang mengungkungnya, melainkan terus berupaya mencari peluang agar dapat mencapai sesuatu yang lebih baik, dengan membuka diri terhadap hal-hal yang baru, yang berada dalam koridor nilai-nilai Islam.

Dalam QS.22:54, Allah SWT berfirman, “Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu (pengetahuan), meyakini bahwa Al Qur’an adalah sesuatu yang hak (benar) dari Tuhanmu (Allah), lalu mereka beriman dan menundukkan hati mereka kepadanya. Dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus (Islam).”

Dengan demikian seorang manusia yang sedang mengembangkan diri berpeluang memiliki pola pikir yang unggul, yang dicirikan oleh: Pertama, memiliki rasa ingin tahu pada hal-hal yang baru, yang berada dalam koridor nilai-nilai Islam. Kedua, memiliki pikiran yang terbuka, karena ingin mengerti. Ketiga, memiliki kemampuan untuk menerima perubahan ke arah yang lebih baik. Keempat, memiliki kesediaan untuk terus menerus belajar dengan gembira dan senang hati. Kelima, memiliki kesediaan untuk membangun suasana yang baik dalam interaksi sosial.

Selamat merenungkan, dan jangan lupa berdoa kepada Allah SWT, untuk kebaikan Bangsa Indonesia, Bangsa Palestina, dan Umat Islam di seluruh dunia.

Semoga Allah SWT berkenan meridhai…

...

Sabtu, 30 Juni 2012

MAMPU MENGATUR DIRI


Mengatur diri adalah suatu kondisi ketika seseorang mampu mengubah pemikiran, sikap dan perilakunya, sehingga dari berbagai masukan yang diperolehnya, ia dapat menghasilkan keluaran dan dampak yang paling baik.

Ketika seseorang menyatakan dirinya bersedia berubah, maka sesungguhnya ia siap berpikir, bersikap, dan berperilaku berbeda dari sebelumnya, menuju ke arah yang lebih baik. Saat itu ia siap mengelola segala potensi dan masukan dari orang lain, sebagai bagian dari proses menuju keberhasilan. Dengan demikian ia memiliki harapan bagi dihasilkannya keluaran yang baik, yang kelak juga akan memberi dampak yang baik.

Rasulullah Muhammad SAW pernah mengingatkan, “Setiap kegiatan ada saatnya bersemangat terus menerus, tetapi setiap semangat ada saatnya melemah. Barangsiapa yang semangatnya melemah, lalu ia mencontoh sunnahku, maka ia akan berhasil. Sebaliknya, barangsiapa yang semangatnya melemah, tetapi ia menolak mencontoh sunnahku, maka ia akan gagal” (HR: Ahmad).

Dengan demikian agar dapat terus menerus bersemangat, maka seorang manusia perlu mencontoh keteladanan Rasulullah Muhammad SAW, lalu menetapkan visi dan misi baru bagi hidupnya. Visi, adalah cita-cita yang ingin dicapai oleh seseorang di masa depan, yang rumusannya akan memberikan inspirasi, motivasi, dan kekuatan pada orang tersebut. Biasanya seseorang akan merumuskan visi yang dapat ia capai, dan dapat ia ukur pencapaiannya, serta dapat ditetapkan periode waktu pencapaiannya.

Sementara itu, misi adalah “perintah” yang harus dilakukan oleh seseorang sesuai dengan visi yang telah ditetapkannya. Rumusan misi seseorang akan memberikan arah bagi orang tersebut dalam mewujudkan visinya. Oleh karena itu, rumusan misi seseorang akan ditetapkannya dalam bentuk rumusan kegiatan utama yang perlu dilakukannya.

Rumusan kegiatan tersebut juga akan dikaitkan dengan ruang lingkup hasil yang hendak dicapai oleh seseorang, dan syarat-syarat yang berkaitan dengan pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku yang dibutuhkan untuk memperoleh hasil yang baik. Syarat-syarat tersebut, antara lain: Pertama, bersedia menggapai kemampuan di bidang tertentu. Kedua, bersedia menggapai kemampuan memelihara kelangsungan hidup. Ketiga, bersedia menggapai kemampuan hidup bermasyarakat. Keempat, bersedia untuk menggapai kemampuan belajar sepanjang masa.

Ringkasnya, agar seseorang dapat mengatur diri, maka ia harus mampu mengubah pemikiran, sikap dan perilakunya. Acuan bagi perubahan pemikiran, sikap, tindakan, dan perilaku orang tersebut adalah visi (cita-cita) dan misi (kegiatan utama) baru, yang ditetapkannya sebagai respon atas dinamika sosial yang ada. Selanjutnya, dengan memperhatikan dan menerima berbagai masukan, maka ia akan dapat menghasilkan keluaran (output) dan dampak (out come) yang paling baik bagi dirinya dan orang lain.

Selamat merenungkan, dan jangan lupa berdoa kepada Allah SWT, untuk kebaikan Bangsa Indonesia, Bangsa Palestina, dan Umat Islam di seluruh dunia.

Semoga Allah SWT berkenan meridhai...

...