Beberapa waktu yang lalu, Pemerintah
Amerika Serikat, dalam hal ini Presiden Amerika Serikat, Barack Husein Obama,
mengumumkan, bahwa Osama bin Laden telah diserang di Pakistan oleh Navy Seal,
Pasukan Komando Angkatan Laut Amerika Serikat. Selanjutnya Obama menyatakan,
bahwa mayat Osama telah dibuang ke laut. Obama juga menyatakan, bahwa mayat
Osama mengerikan karena kepalanya hancur diterjang peluru berkaliber besar dari
Navy Seal.
Dalam perspektif kepentingan Obama, maka
Osama adalah seorang teroris, karena mengganggu kepentingan Amerika Serikat
yang sedang sibuk menghamba pada Pemerintah Israel. Sebaliknya dalam perspektif
Osama, maka Obama adalah seorang teroris, karena bersedia memimpin Amerika
Serikat yang merupakan negara yang menghamba pada Pemerintah Israel, yang terkenal dzalim di
dunia.
Demikianlah perspektif manusia, perspektif
Obama dan Osama dapat saling bertentangan, karena kebenaran keduanya bersifat
relatif. Kebenaran mutlak bukan berada pada manusia, melainkan berada pada
Allah SWT. Dengan kata lain
Allah SWT adalah penentu kebenaran di semesta alam (alam semesta dan alam
akherat).
Sesuatu yang
dikatakan benar oleh Allah SWT, maka benarlah ia di semesta alam. Sebaliknya,
sesuatu yang dikatakan salah oleh Allah SWT, maka salahlah ia di semesta alam. Oleh
karena Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an, maka sesungguhnya kebenaran versi
Allah SWT dapat dilihat di Al Qur’an.
Inilah kebenaran
versi Allah SWT, yang dimuat dalam QS.2:120, sebagai berikut: ”Sesungguhnya
Nasrani dan Yahudi tidak akan pernah senang kepadamu (muslim), sebelum kamu
(muslim) mengikuti millah (cara hidup) mereka (Nasrani dan Yahudi)”.
Allah SWT juga
menyatakan, ”Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad
dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberikan
tempat kediaman dan memberi pertolongan, mereka itu satu sama lain saling
melindungi...” (QS.8:72).
Allah SWT
menjelaskan, ”Tidaklah sama antara orang beriman yang duduk (tidak turut
berjuang) tanpa mempunyai uzur (halangan) dengan orang yang berjihad di jalan
Allah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan derajat orang-orang yang
berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk (tidak turut
berjuang). ...” (QS.4:94).
Berdasarkan
kebenaran versi Allah SWT, maka Osama adalah seorang mujahid (pejuang) yang
telah berjihad dengan harta dan jiwanya, terutama dalam upaya membebaskan bumi
Afghanistan dari penjajahan Amerika Serikat dan sekutunya. Oleh karena itu,
Allah SWT tentulah akan memuliakan Osama dengan karunia dan derajat yang
tinggi.
Untuk lebih mudah
memahami perbandingan antara Osama dengan Obama dan Pemerintah Amerika Serikat,
perhatikan sepak terjang Amerika Serikat selama ini. Pertama, lihatlah jutaan Umat Islam Palestina yang menjadi korban
kekejaman Pemerintah Israel yang didukung oleh Pemerintah Amerika Serikat sejak
tahun 1948. Kedua, lihatlah jutaan
Umat Islam Afghanistan dan Iraq yang menjadi korban kekejaman tentara Amerika
Serikat, Inggris, Perancis, dan sekutunya sejak tahun 2002 (Afghanistan) dan
2003 (Iraq). Ketiga, lihatlah Umat
Islam Libia yang tewas akibat adu domba dan serangan yang dilakukan oleh Amerika
Serikat, Inggris, Perancis dan sekutunya, sejak awal tahun 2011.
Berdasarkan fakta
ini, boleh jadi Osama adalah pahlawan, karena berani melawan Amerika Serikat
dan sekutunya. Sebaliknya, Obama dan Pemerintah Amerika Serikat serta sekutunya
adalah setan yang berbentuk manusia (lihat QS.114). Semoga Allah SWT berkenan
menunjukkan yang benar itu benar, dan yang salah itu salah. Selamat jalan
Osama... semoga Allah SWT meridhai perjuanganmu...
Khusus bagi
Bangsa Indonesia: Semoga Bangsa Indonesia tetap waspada terhadap skenario
Amerika Serikat dan sekutunya.
Caranya, Bangsa
Indonesia harus tetap bersatu, dan berkenan menghindari anarkisme dan
kekerasan, agar tidak terjebak dalam skenario terorisme yang ditebar Amerika
Serikat dan sekutunya.
Bangsa Indonesia
harus tetap berkomitmen dan berjuang membangun negara yang diridhai Allah SWT
dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan
Undang-Undang Dasar Tahun 1945.
Apabila ada
perbedaan pendapat di antara komponen bangsa, hendaklah diselesaikan secara
musyawarah sebagai keluarga bangsa senasib sepenanggungan. Jalin terus hubungan
yang harmoni antara Pemerintah Republik Indonesia, Polisi Republik Indonesia,
dan Tentara Nasional Indonesia dengan masyarakat Indonesia, demi kesejahteraan
dan kepentingan bersama dalam ridha Allah SWT.
Insya-Allah...
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar