WWW.LISTEN2QURAN.COM 2

Rabu, 12 September 2007

PAKAIAN INDAH MENUTUP AURAT


Allah SWT telah berfirman dalam Al Qur'an, bahwa Ia telah menghadirkan manusia di dunia sebagai keturunan dari Rasulullah Adam AS (lihat QS.7:172). Sebagai konsekuensinya, maka manusia hendaknya mengikuti ketaqwaan Rasulullah Adam AS kepada Allah SWT.
Lihatlah, kesungguhan Rasulullah Adam AS ketika memohon ampun atas kesalahannya kepada Allah SWT. Perhatikan pula, kesungguhan Rasulullah Adam AS ketika menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi laranganNya setelah ia ditempatkan di bumi. Sehingga akhirnya Al Qur'an mencatat, bahwa Rasulullah Adam AS adalah manusia yang beraqidah, beribadah, bermuamallah, beradab, dan berakhlak.
Dalam konteks kekinian, ada beberapa manusia yang memperlihatkan karakter yang berbeda dengan karakter Rasulullah Adam AS; antara lain karakter yang gagal menunjukkan ciri manusia beraqidah, beribadah, bermuamallah, beradab, dan berakhlak; contohnya dalam hal berpakaian.
Satu hal yang sering dilupakan oleh beberapa manusia (yang kurang cermat) adalah adanya korelasi yang kuat antara pakaian dengan AIM-A2 (Aqidah, Ibadah, Muamallah, Adab, dan Akhlak). Untuk mengetahui hal ini, sudah selayaknya manusia memperhatikan firman Allah SWT yang menyatakan, bahwa pakaian digunakan untuk menutup aurat (lihat QS.7:26). Aurat (bagian tubuh yang tidak boleh terlihat oleh orang lain) pada laki-laki antara lutut sampai dengan bagian dada, sedangkan aurat bagi wanita meliputi seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan.
Bila kita berkenan memperhatikan manusia di sekitar kita, maka akan terlihat adanya sebagian manusia yang sia-sia dalam berpakaian. Betapa tidak, pakaian yang dikenakannya gagal menutup aurat, bahkan dengan sengaja telah mengekspose aurat. Perhatikanlah mereka yang mengenakan pakaian ketat atau minim. Mereka ini gagal memahami manfaat pakaian, dan boleh jadi juga telah mendurhakai Allah SWT, karena menolak mengimplementasikan QS.7:26. Dengan demikian mereka yang mengenakan pakaian ketat atau minim, dapat digolongkan sebagai manusia yang kurang mampu menunjukkan aqidah yang baik, karena mendurhakai Allah SWT.
Mereka yang mengenakan pakaian ketat atau minim, dapat pula digolongkan sebagai manusia yang gagal menunjukkan kesungguhan dalam beribadah, karena meskipun beribadah tetapi mereka menolak substansi QS.7:26. Selain itu, mereka yang mengenakan pakaian ketat atau minim, juga layak digolongkan sebagai manusia yang tidak bersungguh-sungguh dalam bermuamallah (berinteraksi sosial), karena tidak berkenan mengenakan pakaian yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Akibatnya, mereka yang mengenakan pakain ketat atau minim, berada pada posisi sebagai manusia yang tidak beradab (berkesopanan). Sehingga akhirnya, mereka yang mengenakan pakaian ketat atau minim, tentulah bukan manusia yang berakhlak karena gagal memperlihatkan ciri sebagai manusia yang beraqidah, beribadah, bermuamallah, dan beradab.
Oleh karena itu, bagi mereka yang mengenakan pakaian ketat atau minim, sudah seharusnya kembali ke "jalan" yang lurus, agar tidak berada pada "jalan" yang dimurkai Allah SWT. Sudah saatnya mereka ini mengenakan pakaian yang sesuai dengan ketentuan QS.7:26 (pakaian yang menutup aurat). Jangan pernah meremehkan hal-hal yang berhubungan dengan pakaian, karena Allah SWT telah menetapkan ketentuanNya.
Allah SWT ingin agar manusia mengenakan pakaian yang menutup aurat. Ketentuan ini tidaklah menghalangi manusia untuk mengenakan pakaian yang indah, karena dalam QS.7:31 Allah SWT memerintahkan manusia untuk mengenakan pakaian yang indah ketika memasuki masjid. Dengan demikian sudah selayaknya manusia mengenakan pakaian indah yang menutup aurat.

Selasa, 11 September 2007

BANGSA YANG DIAZAB

Azab adalah konsekuensi duniawi yang diberikan oleh Allah SWT kepada seseorang atau suatu bangsa (kaum), karena pemikiran, sikap, dan perilaku mereka yang melanggar firman Allah SWT. Dalam konteks bangsa-bangsa, sejarah menunjukkan bahwa Bangsa Ad (Kaum Ad) adalah salah satu contoh bangsa yang diazab.
Allah SWT menjelaskan, bahwa Ia telah mengutus Rasulullah Hud AS untuk melakukan program pendampingan bagi Bangsa Ad (lihat QS.7:65). Sesuai dengan program yang ditetapkan oleh Allah SWT, maka pada saat melakukan pendampingan (menyampaikan wahyu dari Allah SWT kepada manusia, khususnya Bangsa Ad), Rasulullah Hud AS telah memberi peringatan kepada Bangsa Ad, tentang konsekuensi duniawi bagi mereka (bangsa) yang melanggar firman Allah SWT (lihat QS.46:21).
Namun demikian, sejarah menunjukkan bahwa Bangsa Ad telah mendustai para Rasulullah termasuk Rasulullah Hud AS (lihat QS.26:123). Hal ini dikarenakan sifat sombong yang disandang oleh Bangsa Ad (lihat QS.41:15), yang kemudian berakibat pada pemusnahan bangsa tersebut oleh Allah SWT. Tindak pemusnahan dilakukan dengan menggunakan kekuatan angin yang sangat kencang (lihat QS.51:41).
Apabila issue "Bangsa Yang Diazab" diletakkan dalam konteks kekinian, maka ada beberapa variabel untuk mengenali bangsa yang berpeluang diazab. Variabel tersebut antara lain: (1) adanya pembawa berita (juru dakwah) yang menyampaikan kebenaran (nilai-nilai Islam); (2) adanya penolakan kepada juru dakwah dan nilai-nilai Islam yang disampaikannya; dan (3) adanya sifat sombong yang dimiliki dan diekspresikan dalam berbagai format.

Senin, 10 September 2007

SEPERTI DEBU



Allah SWT dalam QS.14:18 berfirman, "Orang-orang yang kafir (ingkar atau durhaka) kepada Tuhan mereka, maka amalan-amalan mereka bagaikan debu yang ditiup angin dengan keras, pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari segala sesuatu yang telah mereka usahakan (di dunia). Hal ini dikarenakan mereka telah berada pada kesesatan yang jauh."
Firman Allah SWT ini menunjukkan, bahwa segala kebajikan yang dilakukan oleh orang-orang kafir ditolak oleh Allah SWT. Hal ini rasional, karena orang-orang kafir tidak mengakui Allah SWT sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga seluruh kebajikan yang dilakukan oleh orang-orang kafir, tentulah tidak dipersembahkan sebagai baktinya kepada Allah SWT.
Konsekuensinya, karena Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Esa dan Penguasa Semesta Alam (alam semesta dan alam akherat), maka kebajikan yang dilakukan oleh orang-orang kafir menjadi tidak berarti. Allah SWT menyebutnya, "bagaikan debu yang ditiup angin dengan keras, pada suatu hari yang berangin kencang."
Dapat pula dikatakan, bahwa kebajikan yang dilakukan oleh orang-orang kafir menjadi sesuatu yang sia-sia, tidak berbekas, atau tidak diperhitungkan sebagai kebajikan oleh Allah SWT. Penolakan Allah SWT ini disebabkan orang-orang kafir itu telah berada pada kesesatan yang jauh, yaitu mengingkari atau mendurhakai Allah SWT dengan menolak mengakui Allah SWT sebagai Tuhan Yang Maha Esa dan Penguasa Semesta Alam.

Minggu, 09 September 2007

IDENTITAS KEISLAMAN

Allah SWT dalam QS.3:67 berfirman, "Ibrahim bukanlah seorang Yahudi, dan bukan pula seorang Nasrani. Ia adalah seorang yang lurus (hanya memper-Tuhan-kan Allah), dan berserah diri kepada Allah SWT, oleh karena itu ia bukan dari golongan orang-orang musyrik (memper-Tuhan-kan sesuatu selain Allah)."
Firman Allah SWT ini mengingatkan setiap manusia, agar kembali pada identitas manusia sebenarnya, sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah Ibrahim AS (Alaihi Salaam). Identitas tersebut memiliki karakter yang lurus, yaitu hanya memper-Tuhan-kan Allah SWT, dan tidak sedikitpun memperlihatkan karakter musyrik, yaitu memper-Tuhan-kan sesuatu (manusia atau benda) selain Allah SWT.
Oleh karena itu dalam QS.112:1-4 Allah SWT berfirman, "Katakanlah, "Dialah, Allah! Tuhan Yang Maha Esa. Ia "tempat" meminta. Ia tidak beranak, dan tidak pula diperanakkan. Serta tiada sesuatupun yang setara denganNya.
Dengan demikian seorang manusia hendaknya hanya memper-Tuhan-kan Allah SWT, dan tidak mempe-Tuhan-kan sesuatu (manusia, materi, atau ciptaan Allah SWT lainnya) selain Allah SWT. Jika seorang manusia telah melakukan hal ini (hanya memper-Tuhan-kan Allah SWT), maka ia telah memasuki pintu gerbang Keislaman, yaitu Syahadat Ilahiah. Bila manusia ini berkenan melakukan tahapan-tahapan berikutnya dalam nilai-nilai Islam, maka ia telah menjadi muslim, atau ia telah menjadi orang yang lurus sebagaimana Rasulullah Ibrahim AS. Manusia ini akan semakin total Keislamannya, bila ia berkenan meneladani Rasulullah Muhammad SAW, sebagai pembawa wahyu dari Allah SWT, berupa nilai-nilai Islam, sepeninggal Rasulullah Ibrahim AS.