WWW.LISTEN2QURAN.COM 2

Minggu, 17 Januari 2010

TANDA BAGI MUSLIM

Allah SWT berfirman, "Katakanlah kepada orang-orang yang kafir, "Kamu akan dikalahkan, dan digiring ke dalam neraka jahanam. Dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal." Sungguh telah ada tanda bagimu, pada dua golongan yang berhadap-hadapan. Satu golongan berperang di jalan Allah, dan yang lain kafir; yang melihat dengan mata kepala, bahwa mereka (golongan muslim) berjumlah dua kali lipat golongan kafir. Allah menguatkan dengan pertolonganNya, siapa saja yang Dia kehendaki. Sungguh pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang memiliki penglihatan" (QS.3:12-13).

Sabtu, 21 Maret 2009

KECERDASAN SOSIAL

Islam mengajarkan agar setiap manusia bersungguh-sungguh dalam melaksanakan rahmatan lil'alamiin (memberi manfaat optimal bagi alam semesta). Ajaran ini merupakan salah satu indikator kecerdasan sosial.
Kecerdasan sosial, adalah kemampuan manusia untuk mengendalikan dirinya, agar dapat memberi keuntungan bagi dirinya dan orang lain (keuntungan bersama). Kecerdasan sosial mencakup: Pertama, kemampuan mengendalikan diri dalam berbagai situasi dan kondisi, sehingga dapat mengekspresikan pemikiran, sikap, dan perilaku yang terbaik bagi dirinya dan orang lain. Kedua, kemampuan diri untuk terus menerus bersemangat dalam berpikir, bersikap, dan berperilaku yang mengarah pada kebajikan. Ketiga, kemampuan untuk terus menerus tekun pada berbagai upaya kebajikan, yang telah dicanangkan sejak awal. Keempat, kemampuan untuk terus menerus berada pada motivasi yang tinggi dalam melaksanakan kebajikan. Kelima, terampil dalam mengidentifikasi potensi kebajikan yang ada pada diri sendiri, untuk kemudian dikontribusikan dalam rangkaian kebajikan kolektif. Keenam, terampil mengekspresikan diri, terutama dalam menginspirasi pihak lain untuk turut menjadi bagian dari ikhtiar kebajikan, yang berbasis pada nilai-nilai Islam.

Sabtu, 07 Maret 2009

BERIBADAH DAN BERMANFAAT

Sesungguhnya mereka yang memiliki kecerdasan ruhani (transcendental intelligence), akan mengerti bahwa hidup yang dijalani seorang manusia bukanlah suatu kebetulan saja. Hidup yang dijalani seorang manusia adalah sebuah kesengajaan yang ditetapkan oleh Allah SWT. Dengan kata lain, hidup yang dijalani seorang manusia adalah bagian dari sebuah "Skenario Semesta Alam" yang ditetapkan oleh Allah SWT. Oleh karena itu, seorang manusia harus menjalani kehidupannya dengan penuh tanggungjawab.
Kegagalan seorang manusia menjalankan tugas dan fungsinya sebagai manusia di alam semesta, akan mendapat punishment (sanksi atau hukuman) dari Allah SWT, baik di alam semesta maupun di alam akherat. Sebaliknya keberhasilan seorang manusia dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai manusia di alam semesta, akan mendapat reward (ganjaran atau pahala) dari Allah SWT, baik di alam semesta maupun di alam akherat.
Tugas dan fungsi seorang manusia di alam semesta adalah: Pertama, beribadah kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman, "Dan Aku (Allah) tidak ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaKu" (QS.51:56); Kedua, memberi manfaat optimal bagi alam semesta. Allah SWT berfirman, "Dan Kami (Allah) tiada mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi alam semesta" (QS.21:107).

Minggu, 15 Februari 2009

KECERMATAN MATEMATIS

Ada kecermatan matematis dalam redaksi (teks) Al Qur'an, demikianlah hasil penelitian yang diungkapkan oleh Rasyad Khalifah pada tahun 1990. Dengan menggunakan komputer berbasis Bahasa Arab, ia berhasil menghitung kata-kata dan huruf dalam teks Al Qur'an.
Rasyad Khalifah menyatakan, bahwa:
Pertama, jumlah huruf hija'iyah pada "Bismilaahir rahmaanir rahiim," adalah 19 huruf, yang ternyata merupakan "bilangan basis". Dengan kata lain, angka 19 merupakan "bilangan basis".
Kedua, jumlah huruf qaaf, yang merupakan awal Surah ke-50, ditemukan berulang pada Surah tersebut sebanyak 57 kali, atau 3 x 19.
Ketiga, jumlah huruf kaaf, haa, yaa, 'aiin, dan shaad, yang merupakan awal Surah ke-19, ditemukan berulang pada Surah tersebut sebanyak 798 kali, atau 42 x 19.
Keempat, jumlah huruf nuun, yang merupakan awal Surah ke-68, ditemukan berulang pada Surah tersebut sebanyak 133 kali, atau 7 x 19.
Kelima, hal yang sama terjadi pada Surah ke-36 dan Surah ke-20.
Demikianlah kecermatan matematis yang terdapat dalam Al Qur'an, yang semakin membuktikan, bahwa Al Qur'an bukanlah buatan Rasulullah Muhammad SAW, melainkan kumpulan firman Allah SWT, yang disampaikan oleh Rasulullah Muhammad SAW.

Rabu, 12 September 2007

PAKAIAN INDAH MENUTUP AURAT


Allah SWT telah berfirman dalam Al Qur'an, bahwa Ia telah menghadirkan manusia di dunia sebagai keturunan dari Rasulullah Adam AS (lihat QS.7:172). Sebagai konsekuensinya, maka manusia hendaknya mengikuti ketaqwaan Rasulullah Adam AS kepada Allah SWT.
Lihatlah, kesungguhan Rasulullah Adam AS ketika memohon ampun atas kesalahannya kepada Allah SWT. Perhatikan pula, kesungguhan Rasulullah Adam AS ketika menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi laranganNya setelah ia ditempatkan di bumi. Sehingga akhirnya Al Qur'an mencatat, bahwa Rasulullah Adam AS adalah manusia yang beraqidah, beribadah, bermuamallah, beradab, dan berakhlak.
Dalam konteks kekinian, ada beberapa manusia yang memperlihatkan karakter yang berbeda dengan karakter Rasulullah Adam AS; antara lain karakter yang gagal menunjukkan ciri manusia beraqidah, beribadah, bermuamallah, beradab, dan berakhlak; contohnya dalam hal berpakaian.
Satu hal yang sering dilupakan oleh beberapa manusia (yang kurang cermat) adalah adanya korelasi yang kuat antara pakaian dengan AIM-A2 (Aqidah, Ibadah, Muamallah, Adab, dan Akhlak). Untuk mengetahui hal ini, sudah selayaknya manusia memperhatikan firman Allah SWT yang menyatakan, bahwa pakaian digunakan untuk menutup aurat (lihat QS.7:26). Aurat (bagian tubuh yang tidak boleh terlihat oleh orang lain) pada laki-laki antara lutut sampai dengan bagian dada, sedangkan aurat bagi wanita meliputi seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan.
Bila kita berkenan memperhatikan manusia di sekitar kita, maka akan terlihat adanya sebagian manusia yang sia-sia dalam berpakaian. Betapa tidak, pakaian yang dikenakannya gagal menutup aurat, bahkan dengan sengaja telah mengekspose aurat. Perhatikanlah mereka yang mengenakan pakaian ketat atau minim. Mereka ini gagal memahami manfaat pakaian, dan boleh jadi juga telah mendurhakai Allah SWT, karena menolak mengimplementasikan QS.7:26. Dengan demikian mereka yang mengenakan pakaian ketat atau minim, dapat digolongkan sebagai manusia yang kurang mampu menunjukkan aqidah yang baik, karena mendurhakai Allah SWT.
Mereka yang mengenakan pakaian ketat atau minim, dapat pula digolongkan sebagai manusia yang gagal menunjukkan kesungguhan dalam beribadah, karena meskipun beribadah tetapi mereka menolak substansi QS.7:26. Selain itu, mereka yang mengenakan pakaian ketat atau minim, juga layak digolongkan sebagai manusia yang tidak bersungguh-sungguh dalam bermuamallah (berinteraksi sosial), karena tidak berkenan mengenakan pakaian yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Akibatnya, mereka yang mengenakan pakain ketat atau minim, berada pada posisi sebagai manusia yang tidak beradab (berkesopanan). Sehingga akhirnya, mereka yang mengenakan pakaian ketat atau minim, tentulah bukan manusia yang berakhlak karena gagal memperlihatkan ciri sebagai manusia yang beraqidah, beribadah, bermuamallah, dan beradab.
Oleh karena itu, bagi mereka yang mengenakan pakaian ketat atau minim, sudah seharusnya kembali ke "jalan" yang lurus, agar tidak berada pada "jalan" yang dimurkai Allah SWT. Sudah saatnya mereka ini mengenakan pakaian yang sesuai dengan ketentuan QS.7:26 (pakaian yang menutup aurat). Jangan pernah meremehkan hal-hal yang berhubungan dengan pakaian, karena Allah SWT telah menetapkan ketentuanNya.
Allah SWT ingin agar manusia mengenakan pakaian yang menutup aurat. Ketentuan ini tidaklah menghalangi manusia untuk mengenakan pakaian yang indah, karena dalam QS.7:31 Allah SWT memerintahkan manusia untuk mengenakan pakaian yang indah ketika memasuki masjid. Dengan demikian sudah selayaknya manusia mengenakan pakaian indah yang menutup aurat.

Selasa, 11 September 2007

BANGSA YANG DIAZAB

Azab adalah konsekuensi duniawi yang diberikan oleh Allah SWT kepada seseorang atau suatu bangsa (kaum), karena pemikiran, sikap, dan perilaku mereka yang melanggar firman Allah SWT. Dalam konteks bangsa-bangsa, sejarah menunjukkan bahwa Bangsa Ad (Kaum Ad) adalah salah satu contoh bangsa yang diazab.
Allah SWT menjelaskan, bahwa Ia telah mengutus Rasulullah Hud AS untuk melakukan program pendampingan bagi Bangsa Ad (lihat QS.7:65). Sesuai dengan program yang ditetapkan oleh Allah SWT, maka pada saat melakukan pendampingan (menyampaikan wahyu dari Allah SWT kepada manusia, khususnya Bangsa Ad), Rasulullah Hud AS telah memberi peringatan kepada Bangsa Ad, tentang konsekuensi duniawi bagi mereka (bangsa) yang melanggar firman Allah SWT (lihat QS.46:21).
Namun demikian, sejarah menunjukkan bahwa Bangsa Ad telah mendustai para Rasulullah termasuk Rasulullah Hud AS (lihat QS.26:123). Hal ini dikarenakan sifat sombong yang disandang oleh Bangsa Ad (lihat QS.41:15), yang kemudian berakibat pada pemusnahan bangsa tersebut oleh Allah SWT. Tindak pemusnahan dilakukan dengan menggunakan kekuatan angin yang sangat kencang (lihat QS.51:41).
Apabila issue "Bangsa Yang Diazab" diletakkan dalam konteks kekinian, maka ada beberapa variabel untuk mengenali bangsa yang berpeluang diazab. Variabel tersebut antara lain: (1) adanya pembawa berita (juru dakwah) yang menyampaikan kebenaran (nilai-nilai Islam); (2) adanya penolakan kepada juru dakwah dan nilai-nilai Islam yang disampaikannya; dan (3) adanya sifat sombong yang dimiliki dan diekspresikan dalam berbagai format.

Senin, 10 September 2007

SEPERTI DEBU



Allah SWT dalam QS.14:18 berfirman, "Orang-orang yang kafir (ingkar atau durhaka) kepada Tuhan mereka, maka amalan-amalan mereka bagaikan debu yang ditiup angin dengan keras, pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari segala sesuatu yang telah mereka usahakan (di dunia). Hal ini dikarenakan mereka telah berada pada kesesatan yang jauh."
Firman Allah SWT ini menunjukkan, bahwa segala kebajikan yang dilakukan oleh orang-orang kafir ditolak oleh Allah SWT. Hal ini rasional, karena orang-orang kafir tidak mengakui Allah SWT sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga seluruh kebajikan yang dilakukan oleh orang-orang kafir, tentulah tidak dipersembahkan sebagai baktinya kepada Allah SWT.
Konsekuensinya, karena Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Esa dan Penguasa Semesta Alam (alam semesta dan alam akherat), maka kebajikan yang dilakukan oleh orang-orang kafir menjadi tidak berarti. Allah SWT menyebutnya, "bagaikan debu yang ditiup angin dengan keras, pada suatu hari yang berangin kencang."
Dapat pula dikatakan, bahwa kebajikan yang dilakukan oleh orang-orang kafir menjadi sesuatu yang sia-sia, tidak berbekas, atau tidak diperhitungkan sebagai kebajikan oleh Allah SWT. Penolakan Allah SWT ini disebabkan orang-orang kafir itu telah berada pada kesesatan yang jauh, yaitu mengingkari atau mendurhakai Allah SWT dengan menolak mengakui Allah SWT sebagai Tuhan Yang Maha Esa dan Penguasa Semesta Alam.