WWW.LISTEN2QURAN.COM 2

Minggu, 03 April 2011

PLURALISME, LIBERALISME, DAN SEKULARISME

Sudah sejak lama para agen Barat berupaya memasukkan pluralisme, liberalisme, dan sekularisme ke dalam mindset umat Islam. Namun dengan rahmat Allah SWT upaya itu belum sepenuhnya berhasil, karena sebagian besar umat Islam masih kukuh menolak pluralisme, liberalisme, dan sekularisme. Sebagian besar umat Islam menyatakan diri menerima pluralitas sebagai fakta, namun tetap kukuh menolak pluralisme. Untuk itu, sudah selayaknya umat Islam bersyukur pada Allah SWT.


Pluralisme (agama) adalah suatu faham yang mengajarkan, bahwa semua agama adalah sama, dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relative. Berdasarkan pluralisme, maka setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar, dan juga tidak boleh menganggap bahwa agama yang lain salah. Pluralisme juga mengajarkan, bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga.


Pluralitas (agama) adalah sebuah kenyataan bahwa di negara/daerah tertentu terdapat berbagai bentuk pemeluk agama yang hidup secara berdampingan.


Sementara itu, liberalisme adalah memahami nas-nas agama (al-Qur'an dan Sunnah) dengan menggunakan akal dan pikiran yang bebas semata, dan hanya menerima doktrin agama yang sesuai dengan akal dan pikrian semata.


Selain itu juga diketahui, bahwa sekularisme adalah memisahkan urusan dunia dari agama. Pada faham ini sgama hanya digunakan untuk mengatur hubungan pribadi dengan Tuhan, sedangkan hubungan antar manusia hanya diatur berdasarkan kesepakatan sosial.


MUI (Majelis Ulama Indonesia) dalam Musyawarah Nasional Ke-7 di Jakarta tanggal 24-29 Juli 2005 mengeluarkan fatwa, yang antara lain sebagai berikut: Pertama, pluralisme, sekularisme dan liberalisme agama sebagaimana dimaksud dalam bagian pertama adalah paham yang bertentangan dengan ajaran Islam. Kedua, umat Islam haram mengikuti paham pluralisme, sekularisme dan liberalisme agama. Ketiga, dalam masalah akidah dan ibadah, umat Islam wajib bersikap ekslusif, dalam arti haram mencampur adukan aqidah dan ibadah umat Islam dengan aqidah dan ibadah pemeluk agama lain. Keempat, bagi masyarakat muslim yang tinggal bersama pemeluk agama lain (pluralitas agama) dalam masalah sosial yang tidak berkaitan dengan agama (ibadah), umat Islam bersikap inklusif, dalam artian tetap melakukan pergaulan sosial dengan pemeluk agama lain sepanjang tidak merugikan.


Semoga Allah SWT berkenan melindungi Bangsa Indonesia…

Selasa, 29 Maret 2011

RASULULLAH DAN AL QUR'AN

Kitab Suci Al Qur’an adalah Kitab Suci terakhir yang diturunkan Allah s.w.t. untuk seluruh umat manusia, yang disampaikan oleh malaikat Jibril a.s. kepada Rasulullah Muhammad s.a.w. dalam Bahasa Arab yang bermutu tinggi, guna menjadi pedoman hidup bagi umat manusia.


Allah s.w.t. berfirman, “Janganlah engkau gerakkan lidahmu (Muhammad) untuk membaca Al Qur’an karena hendak cepat-cepat dengannya. Sesungguhnya atas tanggungan Kami (Allah) mengumpulkannya dan membacakannya. Apabila Kami (melalui malaikat Jibril) selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian sesungguhnya atas tanggungan Kami penjelasannya” (QS.75:16-19).


Allah s.w.t. berfirman, “Dalam Bulan Ramadhan itu diturunkan Al Qur’an sebagai petunjuk untuk manusia, dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, serta sebagai pembeda (antara yang benar dengan yang salah) …” (QS.2:185).


Pada malam 17 Ramadhan, bertepatan dengan 6 Agustus 610, saat Rasulullah Muhammad s.a.w. sedang tahannuts (bersunyi diri untuk bertafakur) di Gua Hira datanglah malaikat Jibril a.s. membawa wahyu (kalaamullah) dan meminta Rasulullah Muhammad s.a.w. untuk membacanya (mengucapkannya). Malaikat Jibril a.s. berkata, “Bacalah!”


Dengan perasaan gemetar, Rasulullah Muhammad s.a.w. menjawab, ”Aku tidak dapat membaca.” Malaikat Jibril lalu merengkuh Rasulullah Muhammad s.a.w. sehingga Rasulullah Muhammad s.a.w. terasa sesak nafasnya. Malaikat Jibril a.s. lalu melepaskan kembali rengkuhannya atas Rasulullah Muhammad s.a.w. seraya berkata, “Bacalah!”


Tetapi Rasulullah Muhammad s.a.w. masih tetap menjawab, “Aku tidak dapat membaca.” Begitulah keadaan tersebut berulang hingga tiga kali, sehingga akhirnya Rasulullah Muhammad s.a.w. berkata, “Apa yang kubaca?”


Maka Jibril berkata, “Bacalah dengan nama Tuhanmu (Allah) yang telah menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, yang mengajarkan dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan manusia hal-hal yang belum diketahui manusia” (QS.96:1-5).


Itulah firman Allah s.w.t. pertama yang disampaikan oleh malaikat Jibril a.s. kepada Rasulullah Muhammad s.a.w. Peristiwa ini sekaligus juga menjadi “peresmian” diangkatnya Rasulullah Muhammad s.a.w. sebagai Rasulullah, karena sebelumnya Rasulullah Muhammad s.a.w. adalah manusia biasa.

Minggu, 20 Maret 2011

ALLAH YANG MEMASTIKAN

Allah SWT berpesan, “Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, “Aku pasti melakukan itu besok pagi,” melainkan dengan mengatakan, “insyaAllah”, dan ingatlah kepada Tuhanmu. Namun jika kamu lupa, maka katakanlah, “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk yang mendekati kebenaran” (QS.18:23-24).


Kata “pasti” diharapkan tidak digunakan oleh seorang muslim, kecuali untuk hal-hal yang telah dipastikan oleh Allah SWT, seperti adanya surga dan neraka, adanya hari akhir, dan lain-lain yang bersumber dari Allah SWT. Dengan demikian yang berhak memastikan sesuatu hanyalah Allah SWT, sedangkan manusia tidak berhak memastikan sesuatu. Seorang manusia hanya berhak menyebut “insyaAllah” (bila Allah berkenan) bagi sesuatu yang akan dikerjakannya, atau untuk hasil yang diharapkan dari ikhtiarnya.


InsyaAllah memiliki makna: Pertama, adanya keyakinan yang kuat bahwa Allah SWT Maha Berkehendak atas segala sesuatu yang diikhtiarkan oleh manusia. Kedua, seorang manusia mengetahui bahwa dirinya berada dalam penguasaan dan pengawasan Allah SWT. Ketiga, manusia yang bersangkutan berupaya untuk tawadhu (siap menerima dengan ikhlas dan rendah hati) atas segala sesuatu yang menjadi ketentuan Allah SWT. Keempat, menunjukkan kemampuan seorang manusia dalam mengharmonisasikan antara ikhtiar yang sehebat-hebatnya dengan kemampuan berserah diri kepada Allah SWT secara total.

Minggu, 13 Maret 2011

MENSYUKURI AQIDAH

Dalam setiap khotbah Jum’at, khatib selalu mengingatkan agar setiap muslim mensyukuri aqidah yang dengan kokoh “dipegangnya”. Semua itu tiada lain, adalah karena rahmat dari Allah SWT kepada setiap muslim. Aqidah Islam yang kokoh secara transendental dan rasional merupakan puncak kasih sayang Allah SWT kepada manusia.


Aqidah tersebut memuat substansi, “Tuhan itu Maha Esa, Dia adalah Allah, di mana segala sesuatu bergantung padaNya. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tiada sesuatupun yang setara denganNya” (lihat QS.112:1-4).


Adalah penting mensyukuri aqidah, karena betapa kasihannya mereka yang mempertuhankan Tuhan yang bukan Allah SWT. Tidak ada Tuhan melainkan Allah SWT, maka barangsiapa yang mempertuhankan Tuhan yang bukan Allah SWT, sesungguhnya ia sedang mempertuhankan ketiadaan. Setiap doa dan permohonan yang ditujukan kepada Tuhan yang bukan Allah SWT, adalah doa dan permohonan pada sesuatu yang tiada.


Adalah penting mensyukuri aqidah, karena betapa kasihannya mereka yang mempertuhankan Tuhan yang bukan Allah SWT. Sulit bagi mereka menjelaskan eksistensi (keberadaan) Tuhannya, karena bukti yang disodorkan justru membuktikan bahwa Tuhannya bukan Tuhan. Ketika mereka menyatakan ketuhanan mereka adalah berdasarkan keyakinan, maka keyakinannya ini justru semakin tidak meyakinkan, karena hampir tiada bedanya antara Tuhan dengan yang bukan Tuhan.


Adalah penting mensyukuri aqidah, karena betapa kasihannya mereka yang mempertuhankan Tuhan yang bukan Allah SWT. Hidup mereka disesaki oleh tipudaya tokoh-tokoh agamanya. Kesesatan menjadi menu sehari-hari, dan terpedaya adalah nasib yang disandangnya. Sulit bagi mereka keluar dari jebakan kesesatan ini, jika mereka tidak sungguh-sungguh menggapai hidayah Allah SWT.


Adalah penting mensyukuri aqidah, karena betapa kasihannya mereka yang mempertuhankan Tuhan yang bukan Allah SWT.


Semoga Allah SWT berkenan…

Minggu, 17 Januari 2010

TANDA BAGI MUSLIM

Allah SWT berfirman, "Katakanlah kepada orang-orang yang kafir, "Kamu akan dikalahkan, dan digiring ke dalam neraka jahanam. Dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal." Sungguh telah ada tanda bagimu, pada dua golongan yang berhadap-hadapan. Satu golongan berperang di jalan Allah, dan yang lain kafir; yang melihat dengan mata kepala, bahwa mereka (golongan muslim) berjumlah dua kali lipat golongan kafir. Allah menguatkan dengan pertolonganNya, siapa saja yang Dia kehendaki. Sungguh pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang memiliki penglihatan" (QS.3:12-13).

Sabtu, 21 Maret 2009

KECERDASAN SOSIAL

Islam mengajarkan agar setiap manusia bersungguh-sungguh dalam melaksanakan rahmatan lil'alamiin (memberi manfaat optimal bagi alam semesta). Ajaran ini merupakan salah satu indikator kecerdasan sosial.
Kecerdasan sosial, adalah kemampuan manusia untuk mengendalikan dirinya, agar dapat memberi keuntungan bagi dirinya dan orang lain (keuntungan bersama). Kecerdasan sosial mencakup: Pertama, kemampuan mengendalikan diri dalam berbagai situasi dan kondisi, sehingga dapat mengekspresikan pemikiran, sikap, dan perilaku yang terbaik bagi dirinya dan orang lain. Kedua, kemampuan diri untuk terus menerus bersemangat dalam berpikir, bersikap, dan berperilaku yang mengarah pada kebajikan. Ketiga, kemampuan untuk terus menerus tekun pada berbagai upaya kebajikan, yang telah dicanangkan sejak awal. Keempat, kemampuan untuk terus menerus berada pada motivasi yang tinggi dalam melaksanakan kebajikan. Kelima, terampil dalam mengidentifikasi potensi kebajikan yang ada pada diri sendiri, untuk kemudian dikontribusikan dalam rangkaian kebajikan kolektif. Keenam, terampil mengekspresikan diri, terutama dalam menginspirasi pihak lain untuk turut menjadi bagian dari ikhtiar kebajikan, yang berbasis pada nilai-nilai Islam.

Sabtu, 07 Maret 2009

BERIBADAH DAN BERMANFAAT

Sesungguhnya mereka yang memiliki kecerdasan ruhani (transcendental intelligence), akan mengerti bahwa hidup yang dijalani seorang manusia bukanlah suatu kebetulan saja. Hidup yang dijalani seorang manusia adalah sebuah kesengajaan yang ditetapkan oleh Allah SWT. Dengan kata lain, hidup yang dijalani seorang manusia adalah bagian dari sebuah "Skenario Semesta Alam" yang ditetapkan oleh Allah SWT. Oleh karena itu, seorang manusia harus menjalani kehidupannya dengan penuh tanggungjawab.
Kegagalan seorang manusia menjalankan tugas dan fungsinya sebagai manusia di alam semesta, akan mendapat punishment (sanksi atau hukuman) dari Allah SWT, baik di alam semesta maupun di alam akherat. Sebaliknya keberhasilan seorang manusia dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai manusia di alam semesta, akan mendapat reward (ganjaran atau pahala) dari Allah SWT, baik di alam semesta maupun di alam akherat.
Tugas dan fungsi seorang manusia di alam semesta adalah: Pertama, beribadah kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman, "Dan Aku (Allah) tidak ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaKu" (QS.51:56); Kedua, memberi manfaat optimal bagi alam semesta. Allah SWT berfirman, "Dan Kami (Allah) tiada mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi alam semesta" (QS.21:107).